Corona Virus

Pengertian [1]

Virus Corona merupakan virus RNA yang berasal dari famili Coronaviridae. Patofisiologi virus ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi sel epitel saluran pernapasan dan pencernaan merupakan target utama virus ini. Rute transmisi virus Corona adalah melalui droplet. Transmisi melalui kontak langsung, airbornefecal-oral, dan fomite yang terkontaminasi belum dapat dipastikan tetapi patut diwaspadai juga. Masa inkubasi virus Corona sekitar 5 hari (2-14 hari).

Namun, beberapa jenis virus corona juga bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius, seperti:

Sampai saat ini terdapat tujuh virus corona (HCoVs) yang telah diidentifikasi, yaitu:

  • HCoV-229E.
  • HCoV-OC43.
  • HCoV-NL63.
  • HCoV-HKU1.
  • Severe Acute Respiratory Syndrome  (SARS-COV) yang menyebabkan sindrom pernapasan akut.
  • Middle East Respiratory Syndrome (MERS-COV)
  • COVID-19 atau dikenal juga dengan Novel Virus Corona (menyebabkan wabah pneumonia di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019, dan menyebar ke negara lainnya mulai Januari 2020. Indonesia sendiri mengumumkan adanya kasus COVID-19 dari Maret 2020

Penyebab Infeksi Virus Corona  [2]

Virus COVID-19 terutama menyebar ketika satu orang menghirup tetesan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Selain itu, setiap orang yang terinfeksi, dengan atau tanpa gejala, dapat menyebarkan virus dengan menyentuh permukaan. Virus corona bisa tetap berada di permukaan itu dan orang lain bisa menyentuhnya dan kemudian menyentuh mulut, hidung atau mata mereka. Itulah mengapa sangat penting untuk mencoba menghindari menyentuh permukaan publik atau setidaknya mencoba untuk menyeka mereka dengan desinfektan.

Menjaga Sistem Kekebalan Tubuh Tetap Kuat [3]

Mengikuti pedoman kesehatan umum adalah langkah terbaik yang dapat Anda ambil untuk menjaga sistem kekebalan tubuh Anda kuat dan sehat. Setiap bagian dari tubuh Anda, termasuk sistem kekebalan tubuh Anda, berfungsi lebih baik ketika dilindungi dari serangan lingkungan dan didukung oleh strategi hidup sehat seperti:

  • Jangan merokok.
  • Konsumsilah makanan yang kaya akan buah, sayuran, dan biji-bijian.
  • Minumlah multivitamin jika Anda curiga Anda mungkin tidak mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan melalui diet.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Pertahankan berat badan yang sehat.
  • Kontrol tingkat stres Anda.
  • Kontrol tekanan darah Anda.
  • Jika Anda minum alkohol, minumlah hanya dalam jumlah sedang (tidak lebih dari satu atau dua gelas sehari untuk pria, tidak lebih dari satu hari untuk wanita).
  • Tidur yang cukup.

Gejala Infeksi Virus corona [4]

Sama seperti infeksi virus lainnya, infeksi ini dapat bersifat asimptomatik dan dapat juga menimbulkan gejala yang ringan, seperti pada infeksi saluran napas atas (ISPA); gejala yang berat, seperti pneumonia; bahkan sampai menimbulkan kematian. Terdapat sekitar 17-29% pasien mengalami sindrom distress pernapasan akut dan 10% mengalami infeksi sekunder.

Tanda dan gejala yang terjadi adalah demam, batuk, nyeri tenggorokan, dan dispnea. Beberapa gejala lain yang dapat terjadi adalah mialgia/fatigue, nyeri kepala, dan diare.

Faktor risiko yang dapat memperberat penyakit infeksi Virus Corona adalah kelompok usia tertentu seperti usia lanjut, bayi, anak, serta adanya penyakit kronis seperti diabeteshipertensi, gangguan kardiovaskular, dan kanker.

Diagnosis Infeksi Virus corona  

Untuk mendiagnosis infeksi virus corona, dokter akan mengawali dengan anamnesis atau wawancara medis. Di sini dokter akan menanyakan seputar gejala atau keluhan yang dialami pasien. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah untuk membantu menegakkan diagnosis.

Dokter mungkin juga akan melakukan tes dahak, mengambil sampel dari tenggorokan, atau spesimen pernapasan lainnya. Untuk kasus yang diduga infeksi corona virus, dokter akan melakukan swab tenggorokan, DPL, fungsi hepar, fungsi ginjal, dan PCT/CRP.

Pengobatan Infeksi Virus Corona [5]

Adakah obat khusus untuk mencegah atau mengobati virus corona?

Sampai saat ini, tidak ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati virus corona baru (2019-nCoV).

Namun, mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala dan mereka yang sakit parah harus mendapatkan perawatan suportif yang dioptimalkan. Beberapa perawatan spesifik sedang diselidiki dan akan diuji melalui uji klinis.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala infeksi virus corona. Contohnya:

  • Minum obat yang dijual bebas untuk mengurangi rasa sakit, demam, dan batuk. Namun, jangan berikan aspirin pada anak-anak. Selain itu, jangan berikan obat batuk pada anak di bawah empat tahun.
  • Gunakan pelembap ruangan atau mandi air panas untuk membantu meredakan sakit tenggorokan dan batuk.
  • Perbanyak istirahat.
  • Perbanyak asupan cairan tubuh.
  • Jika merasa khawatir dengan gejala yang dialami, segeralah hubungi penyedia layanan kesehatan terdekat.

Khusus untuk virus corona yang menyebabkan penyakit serius, seperti SARS, MERS, atau infeksi COVID-19, penanganannya akan disesuaikan dengan penyakit yang diidap dan kondisi pasien. 

Bila pasien mengidap infeksi virus corona, dokter akan merujuk ke RS Rujukan yang telah ditunjuk oleh Dinkes (Dinas Kesehatan) setempat. Bila tidak bisa dirujuk karena beberapa alasan, dokter akan menganjurkan untuk melakukan:

  • Isolasi
  • Serial foto toraks sesuai indikasi.
  • Terapi simptomatik.
  • Terapi cairan.
  • Ventilator mekanik (bila gagal napas)
  • Bila ada disertai infeksi bakteri, dapat diberikan antibiotik. 

Pencegahan Infeksi Virus corona 

Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus corona. Namun, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjangkit virus ini. Berikut upaya yang bisa dilakukan: 

  • Tetap menjalankan protokol kesehatan yang sudah dianjurkan pemerintah
  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik hingga bersih.
  • Hindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut saat tangan dalam keadaan kotor atau belum dicuci.
  • Hindari kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sakit.
  • Hindari menyentuh hewan atau unggas liar. 
  • Membersihkan dan mensterilkan permukaan benda yang sering digunakan. 
  • Tutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk dengan tisu. Kemudian, buanglah tisu dan cuci tangan hingga bersih. 
  • Jangan keluar rumah dalam keadaan sakit.
  • Kenakan masker dan segera berobat ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala penyakit saluran napas. 

Selain itu, kamu juga bisa perkuat sistem kekebalan tubuh dengan konsumsi vitamin dan suplemen sebagai bentuk pencegahan dari virus ini.

Tindakan Perawatan

Berdasarkan kondisi bahwa orang tersebut sehat namun melakukan kontak dengan orang sakit Covid-19:

  1. Karantina di rumah selama 14 hari
  2. Melakukan pisah alat makan
  3. Ruangan non AC
  4. Bersihkan tiap hari: ruangan, sprei, dan pakaian
  5. Sediakan hand-rub dan alkohol minimum 75% untuk membersihkan benda-benda di rumah
  6. Menjaga jarak fisik, minimum 2 meter

Tertular, tetapi tetap sehat karena antibodi cepat melawan dan langsung sembuh;

Lakukan sama dengan 6 langkah di atas

Tertular, namun terlihat sehat. Virus tinggal di dalam tubuh, tetapi tidak menimbulkan sakit dan disebut carrier/pembawa. Ini biasanya adalah kelompok orang muda, dan merupakan kelompok penular terbesar;

Lakukan sama dengan 6 langkah di atas

Tertular dan sakit ringan (seperti flu biasa, pegal-pegal, pusing). Ini juga merupakan kelompok penular terbesar);

  1. Isolasi di rumah dilanjutkan dengan karantina di rumah selama 14 hari
  2. Anggota keluarga ikut melakukan karantina di rumah
  3. Batasi jumlah orang yang merawat pasien
  4. Tunjuk orang yang dalam kesehatan baik dan tidak memiliki penyakit kronis
  5. Hindari kunjungan menengok yang sakit oleh orang lain
  6. Batasi pergerakan pasien, minimalkan area yang digunakan bersama (dapur, kamar mandi, dll)
  7. Melakukan pisah alat makan
  8. Tempatkan di ruangan non AC, sering buka jendela
  9. Bersihkan tiap hari dengan desinfektan alcohol 75%: ruangan, kamar mandi, dapur, dll
  10. Cuci tiap hari dengan deterjen: sprei dan pakaian
  11. Beri Vitamin C 1.000 mg dan vitamin D3 25 mg
  12. Pastikan kecukupan asupan cairan: cairan yang manis (sukrosa) atau air jahe diberi gula merah
  13. Sediakan hand rub untuk membersihkaan tangan
  14. Menjaga jarak fisik, minimum 2 meter

Tertular dan sakit berat (batuk, demam, diare, sesak napas) lalu sembuh

Sama dengan 14 langkah di atas, tambahkan;

  1. Paracetamol 500 mg
  2. Oksigen kaleng (wajib orang tua/lansia)
  3. Ventoline oral (wajib orang tua/lansia)

Lalu bagaimana cara merawat pasien Covid-19 di rumah? WHO memberikan panduan dalam buklet; Home Care For Patients with COVID-19 Presenting With Mild Symptoms and Management of Their Contacts:

  1. Kenakan masker yang pas dengan wajah saat berada di kamar yang sama dengan pasien.
    Hindari menyentuh atau mengatur masker dengan tangan yang tidak bersih. Ganti masker segera saat terkontaminasi. Cuci tangan setelah melepas masker.
  2. – Cuci tangan setelah melakukan kontak langsung dengan pasien atau setelah memasuki atau keluar dari ruang isolasi pasien.
    – Cuci tangan sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah pergi ke toilet, dan ketika tangan terlihat kotor. Jika tangan tidak tampak kotor, bersihkan dengan pembersih tangan/hand-sanitizer; jika tangan tampak kotor, cuci dengan sabun dan air.
  3. Pakailah sarung tangan sekali pakai saat membersihkan mulut dan saluran pernapasan pasien serta untuk menangani kotoran dan urine pasien. Jangan membuang sarung tangan dengan sembarangan.
  4. Hindari kontak langsung dengan pasien atau barang-barang yang terkontaminasi oleh pasien (sikat gigi, peralatan makan, makanan, minuman, handuk, sprei, dll). Cuci piring dengan deterjen atau buang setelah digunakan.
  5. Pakailah sarung tangan sekali pakai dan pakaian pelindung (seperti celemek plastik) sebelum membersihkan dan menyentuh pakaian, alas tidur dan permukaan benda yang terkontaminasi oleh sekresi manusia. Cuci tangan sebelum mengenakan sarung tangan dan setelah melepasnya.
  6. Pasien perlu tetap berhubungan dengan professional medis sampai pulih total.
    Sedangkan Center for Disease Control and Prevention memberikan definisi dan perbedaan antara karantina di rumah dan isolasi di rumah

Karantina di rumah:

  1. Berlaku untuk kelompok dan anggota rumah tangga yang melakukan kontak dengan kasus Covid-19.
  2. Berlaku untuk orang yang pernah berada atau singgah di negara, wilayah, atau kota yang memiliki kasus Covid-19.

Peran Status Nutrisi terhadap Daya Tahan Tubuh [6-8]

  • Kurang gizi -> pertahanan tubuh lemah -> mudah infeksi
  • Indeks massa tubuh yang tinggi (kelebihan berat badan atau kegemukan) -> peradangan berlebihan, rentan infeksi seperti influenza, dan lebih berisiko komplikasi -> penyakit lebih parah

Peran Nutrisi dalam Pertahanan Tubuh terhadap Virus [6,9]

  • Vitamin A: minyak ikan, mentega, kuning telur, cabai merah, wortel, bayam, kangkung
  • Vitamin B: kentang, daging sapi, pisang, salmon, tuna, tempe, susu sapi
  • Vitamin C: kiwi, papaya, brokoli, stroberi, lemon, jeruk manis
  • Vitamin D: ikan kembung, ikan sarden, salmon, tuna
  • Vitamin E: almond, minyak kacang kedelai, minyak kelapa sawit, minyak zaitun
  • Asam lemak omega-3 (EPA dan DHA): sarden, salmon, tiram, minyak ikan
  • Selenium: nasi, jeroan, susu, daging
  • Seng: kepiting, tiram, daging sapi, keju
  • Besi: tahu, kangkung, bayam
  • Tembaga: tiram, lobster, coklat, kacang

Ref.

[1] https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus/facts, https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-criteria.html

[2] https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/coronavirus-resource-center)

[3] Coronavirus Resource Center. https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/coronavirus-resource-center

[4] https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-guidance-management-patients.html, https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus/facts, https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-criteria.html

[5] https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters

[6] Zhang L, Liu Y. Potential Interventions for Novel Coronavirus in China: A Systematic Review [published online ahead of print, 2020 Feb 13]. J Med Virol. 2020;10.1002/jmv.25707. doi:10.1002/jmv.25707,

[7] Alwarawrah Y, Kiernan K, MacIver NJ. Changes in Nutritional Status Impact Immune Cell Metabolism and Function. Front Immunol. 2018;9:1055. Published 2018 May 16. doi:10.3389/fimmu.2018.01055,

[8] Liu M, He P, Liu HG, et al. Zhonghua Jie He He Hu Xi Za Zhi. 2020;43(0):E016. doi:10.3760/cma.j.issn.1001-0939.2020.0016,

[9] Stephensen CB dan Zunino SJ. Nutrition and the immune system. Dalam: Ross AC, Caballero B, Cousins RJ, Tucker KL, Ziegler TR, editor. Modern Nutrition in Health and Disease. Edisi ke-11. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. hal 601-10.)

Caregiver

Apa itu Caregiver?

Secara garis besar, caregiver atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai ‘pengasuh’ adalah seorang individu yang merawat dan mendukung individu lain yang memiliki keterbatasan dalam kehidupannya secara umum. Individu disini dapat merujuk pada lansia, orang dengan disabilitas, orang dengan penyakit kronis (penyakit jangka waktu panjang) yang memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas dengan baik. Dukungan yang diberikan caregiver pun beragam, dapat berupa dukungan emosional, dukungan finansial, memberikan perawatan, dan dalam bentuk lain. [1]

Caregiver mempunyai tugas salah satunya sebagai emotional support, di antaranya merawat pasien (memandikan, memakaikan baju, menyiapkan makan, mempersiapkan obat), mengatur keuangan, membuat keputusan tentang perawatan dan berkomunikasi dengan pelayanan kesehatan formal (Kung, 2003: 3) [2]

Tips Kesehatan Mental untuk Caregiver saat situasi COVID-19

  1. Cari informasi dari sumber tepercaya
    Ada banyak informasi yang dibagikan. Jika menonton, membaca atau mendengarkan berita menyebabkan kecemasan dan kesusahan, kurangi eksposur dan cari informasi terbaru dari sumber terpercaya sekali atau dua kali sehari. [3]
  2. Persiapkan rencana darurat Anda
    Persiapkan rencana darurat Anda jika Anda menginginkan karantina diri sendiri. Memiliki sebuah rencana dapat membantu menghilangkan beberapa stres. Perluas lingkaran dukungan Anda dan tanyakan anggota keluarga atau teman Anda jika mereka bisa membantu bila diperlukan. Dokumentasikan jenis perawatan yang Anda berikan yaitu obat, makan, dll sehingga seseorang dapat dengan mudah merujuk dan menyediakan perawatan yang dibutuhkan. Simpan daftar semua dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya di satu tempat. Memastikan catatan medis, riwayat perjalanan perawatan kesehatan atau dokumentasi lainnya mudah diakses anggota lingkaran perawatan atau keluarga Anda tahu dimana menemukannya. [3]
  3. Temukan peluang untuk berbagi cerita positif dan kebaikan bagi orang disekitar Anda
    Jika Anda memberikan perawatan kepada seseorang dengan tantangan kesehatan fisik dan atau mental, bagikan kisah positif dari orang yang telah pulih dari COVID-19 atau dikelola dengan baik selama periode pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Mengakui jasa penyedia layanan kesehatan dan berterima kasih atas dukungan dan komitmen mereka pada saat yang sulit ini. Pesan ini diharapkan bisa bermakna bagi mereka yang bekerja di garis depan untuk menjaga kita semua tetap aman.  [3]
  4. Jaga rutinitas rutin sebanyak mungkin
    Sebisa mungkin, tetap rutin atau rutin membantu membuat yang baru di lingkungan baru, termasuk olahraga teratur, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kontak virtual dengan keluarga, teman dan anggota komunitas. Kembangkan strategi untuk menyesuaikan rutinitas Anda selama periode jarak sosial atau isolasi diri. Ada banyak sumber daya yang tersedia online untuk berbelanja, komunikasi, olahraga, dll untuk membantu beradaptasi dengan rutinitas Anda. Tetap memberi kabar dengan orang yang Anda sayangi, bahkan jika Anda tidak bisa mengunjungi secara langsung. [3]
  5. Tetap terhubung dan pertahankan jejaring sosial
    Gunakan teknologi untuk membantu Anda tetap terhubung misalkan email, media sosial, konferensi video (Facetime, skype, dll.) dan telepon. Jika kamu sedang merawat seseorang dalam jangka panjang atau fasilitas kesehatan lain, periksa untuk melihat apa teknologi yang mereka miliki. Dengan perubahan untuk pedoman kunjungan, banyak rumah menambahkan cara tambahan untuk penghuni dan keluarga terhubung. Jika Anda memiliki ide kreatif, beri tahu kami dan berbagi dengan fasilitas lokal Anda. [3]
  6. Hadiri kebutuhan dan perasaan Anda sendiri
    Terlibat dalam kegiatan sehat yang Anda nikmati dan santai. Berolahraga secara teratur, tidur yang teratur dan makan makanan yang sehat dan bergizi. Jika Anda atau seseorang yang Anda sayangi membutuhkan kesehatan mental dukungan, hubungi penyedia layanan kesehatan setempat Anda. [3]

Tantangan yang mungkin terjadi saat menyampaikan informasi terkait COVID-19 kepada lansia: [4]

  1. Karena COVID-19 tergolong masih baru dan masih sedikit penelitian yang mengetahui tentang penyakit ini secara mendalam, banyak sekali berita yang tidak jelas kebenaran dan sumbernya. Maka dari itu, sebelum menyampaikan informasi ke lansia, kita perlu memastikan sumber informasi yang dapat dipercaya. Cek kembali informasi yang kita dapatkan dengan sumber yang terpercaya dan pilah kembali mana berita yang bermanfaat dan terpercaya untuk disampaikan kepada lansia.
  2. Sebagian lansia mungkin menolak mengikuti saran pencegahan seperti physical distancing. Mereka telah hidup lebih lama dan telah banyak melewati banyak kejadian sulit sepanjang hidupnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi lansia untuk sulit menerima informasi baru atau menganggap enteng wabah ini. Sebagian mungkin merasa sudah tua sehingga tidak masalah bila terkena dan meninggal, sebagian lainnya mungkin merasa masih sehat dan tidak akan terkena. Jelaskan bahwa Anda sekeluarga menyayanginya dan tidak ingin beliau terinfeksi, sampaikan pula fakta bahwa wabah COVID-19 ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi selama seabad terakhir, oleh karenanya lebih baik berjaga-jaga untuk mencegahnya.
  3. Dinamika dalam keluarga. Terkadang, dinamika hubungan orangtua dengan anak dapat menghalangi seorang lansia menerima informasi. Peran sebagai orangtua ketika anak-anaknya masih kecil menempatkan seseorang dalam posisi yang lebih mengetahui informasi dan bertanggungjawab terhadap anak-anaknya. Terkadang, ketika anak telah dewasa dan orangtua menjadi lansia pun, sulit bagi orangtua untuk menerima bahwa kini mereka bertukar peran; anak-anaknya yang menjaga dirinya. Bila Anda merasa hal ini yang menyulitkan orangtua Anda menerima informasi atau nasihat, coba sampaikan permintaan untuk mereka mengikuti saran pencegahan COVID-19 sebagai kebutuhan Anda, bukan mereka. Misalnya: “Saya khawatir dengan wabah ini dan ingin Mama/Papa sehat selalu, supaya terus bisa bermain dengan cucu-cucu” Bila dinamika keluarga masih menghalangi Anda menyampaikan informasi, Anda juga dapat mempertimbangkan untuk menyampaikan informasi melalui orang lain yang mungkin lebih didengarkan oleh mereka. Jika ada Caregiver maka bisa membantu untuk menyampaikan informasi atau alternative lainnya, berikan tontonan yang menarik tentang COVID-19 ini.
  4. Adanya gangguan kognitif atau fungsi pikir seperti demensia, yang sering terjadi pada lansia. Hal ini tentunya mempengaruhi kemampuan seorang lansia menerima dan mengingat informasi. Akibatnya, lansia mungkin lupa melakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan. Demensia juga dapat mengganggu proses komunikasi serta menyebabkan seseorang sulit memahami hubungan sebab-akibat, sehingga sulit memahami alasan mengapa harus meminimalisir bepergian selama wabah ini. Maka dari itu, Caregiver harus terus mengingatkan atau memantau aktivitas lansia.

Ref.

[1] https://pijarpsikologi.org/family-caregiver-sang-pengasuh-pun-butuh-diperhatikan/

[2] https://www.kanopiinsansejahtera.co.id/care-giver-dan-home-care-ciptakan-kemandirian-lansia/

[3] https://ontariocaregiver.ca/covid-19/

[4] https://alzi.or.id/tantangan-yang-mungkin-terjadi-saat-menyampaikan-informasi-terkait-covid-19-kepada-lansia/

Peran Penting Caregiver Bagi Penyandang Demensia

Demensia merupakan suatu sindroma yang ditandai dengan terganggunya fungsi intlektual atau fungsi berpikir seperti mudah lupa, disorientasi, gangguan komunikasi, menurunnya kemampuan menganalisa dan kurang mampu mengambil keputusan. Gangguan tersebut akan berlangsung kronik dan semakin lama dirasakan tambah berat.

Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan bahwa pada tahun 2015 terdapat 47,5 juta orang hidup dengan demensia dan setiap tahunnya ada 7.7 juta kasus demensia. Demensia umumnya menyerang usia lanjut sekitar usia 65 tahun, namun dapat pula mengenai usia yang lebih muda.

Spesialis Saraf Siloam Hospitals Lippo Village, Dr. dr. Rocksy Fransisca, Sp. S mengatakan, pada penyandang demensia terdapat kemunduran fungsi kognisi secara bertahap disertai penurunan dalam aktivitas sehari-hari dan kadang muncul gangguan perilaku seperti mudah marah, curiga, menarik diri, depresi, insomnia, hiperinsomnia bahkan sampai gangguan yang lebih berat seperti delusi, dan halusinasi. Oleh karena itu, masalah yang dihadapi penyandang demensia sering bersifat kompleks sehingga memerlukan perhatian dan perawatan khusus terutama bagi keluarga atau penjaga atau pendamping pasien yang disebut Caregiver.

Keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai caregiver terdekat dalam merawat dan mendampingi pengandang demensia. Peran ini dapat pula diserahkan kepada petugas profesional atau Caregiver.

Pelayanan yang optimal dengan memberikan kasih sayang yang tulus didukung dengan lingkungan yang nyaman dalam merawat pengandang demensia dapat memberikan dampak positif pada perjalanan penyakit ini.

Dalam menghadapi penyandang demensia, keluarga maupun caregiver perlu memahami tentang penyakit ini dan tata cara penanganannya. Hal ini bermanfaat untuk mengurangi dampak negatif bagi Caregiver itu sendiri, seperti merasa frustasi, putus asa, mudah marah, bahkan depresi.

Klinik Memory and Aging Center (MAC) Siloam Hospitals Lippo Village sejak tahun 2018 melayani deteksi dini atau screening gejala demensia.

(source: https://serpongupdate.com/peran-penting-caregiver-bagi-penyandang-demensia/)

Pedoman Praktis Skrining dan Penanganan Awal Infeksi Virus Corona

Munculnya infeksi virus Corona, atau yang disebut juga dengan COVID-19, yang telah mewabah di Cina dan negara lainnya, mengharuskan dokter di Indonesia memahami skrining dan penanganan awal penyakit yang mempunyai gejala menyerupai influenza ini.

Akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan adanya kasus sindrom respirasi akut yang bersumber dari Wuhan, Cina, dengan penyebab utamanya adalah virus Corona (SARS-CoV-2). Infeksi virus Corona, atau yang disebut juga dengan COVID-19, sangat cepat menyebar melalui droplets yang ditularkan antar manusia. Sampai saat ini, COVID-19 sudah terdeteksi di beberapa negara termasuk Indonesia. Beberapa negara seperti Cina, Korea Selatan, Jepang, Italia, dan Iran merupakan negara dengan risiko tinggi penularan virus corona.

Berdasarkan laporan terakhir dari European Centre for Disease Prevention and Control pada awal Maret 2020, terdapat 114.243 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi positif dan ada sebanyak 4.023 kematian yang diakibatkan oleh virus ini.

Sekilas tentang Virus Corona

Virus Corona merupakan virus RNA yang berasal dari famili Coronaviridae. Patofisiologi virus ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi sel epitel saluran pernapasan dan pencernaan merupakan target utama virus ini. Rute transmisi virus Corona adalah melalui droplet. Transmisi melalui kontak langsung, airbornefecal-oral, dan fomite yang terkontaminasi belum dapat dipastikan tetapi patut diwaspadai juga. Masa inkubasi virus Corona sekitar 5 hari (2-14 hari).

Virus Corona spesies lain sebelumnya juga pernah mewabah dalam beberapa tahun terakhir dan menyebabkan infeksi respiratori pada manusia, yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada tahun 2012. Virus Corona yang menyebabkan wabah kali ini adalah SARS-CoV-2. Sampai saat ini, diduga hewan, terutama kelelawar, merupakan perantara penularan virus Corona.

Presentasi Klinis Pasien Terinfeksi Virus Corona

Sama seperti infeksi virus lainnya, infeksi ini dapat bersifat asimptomatik dan dapat juga menimbulkan gejala yang ringan, seperti pada infeksi saluran napas atas (ISPA); gejala yang berat, seperti pneumonia; bahkan sampai menimbulkan kematian. Terdapat sekitar 17-29% pasien mengalami sindrom distress pernapasan akut dan 10% mengalami infeksi sekunder.

Tanda dan gejala yang terjadi adalah demam, batuk, nyeri tenggorokan, dan dispnea. Beberapa gejala lain yang dapat terjadi adalah mialgia/fatigue, nyeri kepala, dan diare.

Faktor risiko yang dapat memperberat penyakit infeksi virus Corona adalah kelompok usia tertentu seperti usia lanjut, bayi, anak, serta adanya penyakit kronis seperti diabeteshipertensi, gangguan kardiovaskular, dan kanker.

Skrining Infeksi Virus Corona

Pada pasien yang asimptomatik dengan riwayat kontak dengan pasien virus Corona harus dilakukan pemeriksaan awal/skrining. Individu terbagi menjadi dua tipe pajanan, pajanan risiko rendah dan pajanan risiko tinggi. Disebut pajanan risiko tinggi apabila seseorang berada kira-kira 2 meter dari kasus virus Corona dalam periode waktu yang cukup lama tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti gaunsarung tangan, masker N95, dan proteksi mata; atau seseorang yang kontak langsung dengan sekret infeksius dari kasus virus Corona seperti terkena batuk atau bersin dari pasien saat tidak menggunakan alat pelindung diri.

Apabila individu memiliki pajanan risiko rendah, lakukan pemantauan pribadi selama 14 hari terhadap tanda dan gejala infeksi virus Corona. Apabila dalam waktu 14 hari tidak ada demam atau gejala pernapasan, individu tersebut dapat dinyatakan tidak terdapat risiko infeksi virus Corona.

Pada individu yang mengalami pajanan risiko tinggi, petugas kesehatan harus menghubungi Dinas Kesehatan setempat agar dapat dilakukan pemantauan ketat selama 14 hari. Pemantauan ketat meliputi evaluasi tanda dan gejala klinis setiap hari, melakukan karantina (dipisahkan dari kontak sosial), tidak boleh bepergian, dan harus selalu dapat dihubungi untuk pemantauan aktif. Apabila dalam waktu 14 hari tidak ada demam atau keluhan lainnya, individu dapat dinyatakan tidak memiliki risiko infeksi virus Corona.

Pada individu yang dalam waktu pemantauan mengalami demam atau keluhan respirasi, isolasi harus dilakukan dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk oleh Kemenkes, seperti rumah sakit penyakit infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dan rumah sakit umum pusat (RSUP) Persahabatan, untuk dilakukan penegakan diagnosis dan perawatan. Apabila tidak terkonfirmasi, dilakukan pemantauan lanjutan sampai 14 hari apakah gejala membaik atau tidak. Apabila infeksi virus Corona telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, lakukan penatalaksanaan segera pada pasien.

Penatalaksanaan Awal Pasien Terinfeksi Virus Corona

Belum ada penatalaksaan yang spesifik untuk penyakit ini. Penatalaksanaan dengan antivirus juga belum terbukti efektif menyembuhkan infeksi virus Corona, sehingga fokus penatalaksanaannya adalah dengan mengobati gejala klinis dan terapi suportif seperti suplementasi oksigen, manajemen cairan, dan antibiotik jika diperlukan.

Saat ini, dua jenis obat, yaitu klorokuin fosfat dan remdesivir, sedang diteliti untuk pengobatan COVID-19. Klorokuin fosfat, yang biasa digunakan untuk mengobati malaria, telah ditemukan dapat menghambat replikasi dari SARS-CoV pada kultur sel. Studi lain juga menyatakan bahwa klorokuin mungkin memiliki efek profilaktik maupun terapeutik terhadap COVID-19. Redemsivir, yang merupakan antivirus spektrum luas, ditemukan dapat mengintervensi rantai RNA dari virus Corona. Namun, kedua obat ini masih dalam tahap uji klinis untuk menilai efektivitasnya terhadap penyakit COVID-19.

Penatalaksanaan awal infeksi virus Corona adalah dengan suplementasi oksigen, manajemen cairan, antibiotik jika diperlukan, dan kontrol infeksi agar infeksi tidak semakin menyebar. Rajin mencuci tangan dan memakai alat pelindung diri yang memadai sangat penting untuk mencegah penularan infeksi virus Corona pada tenaga kesehatan.

Referensi

1. European Centre for Disease Prevention and Control. Novel Coronavirus. Available from: https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus-china

2. European Centre for Disease Prevention and Control. Facts About Novel Coronavirus. Available from https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus/facts

3. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Care 2019 Novel Coronavirus. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-guidance-management-patients.html

4. Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia. Manajemen Spesimen dan Diagnosis Laboratorium Kasus Suspek 2019-nCoV. Available from: https://www.pdspatklin.or.id/assets/files/pdspatklin_2020_01_26_16_58_51.pdf

5. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet. 2020. Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/fulltext

6. WHO. Clinical management of severe acute respiratory infection wen novel coronavirus (nCov) infection is suspected. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/clinical-management-of-novel-cov.pdf?sfvrsn=bc7da517_2&download=true

7. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M, Shi Z, Hu Z, Zhong W, Xiao G. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020 Feb 4:1-3.

8. Vincent MJ, Bergeron E, Benjannet S, Erickson BR, Rollin PE, Ksiazek TG, Seidah NG, Nichol ST. Chloroquine is a potent inhibitor of SARS coronavirus infection and spread. Virology journal. 2005 Dec 1;2(1):69.

9. Gao J, Tian Z, Yang X. Breakthrough: Chloroquine phosphate has shown apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies. BioScience Trends. 2020.

10. Sheahan TP, Sims AC, Leist SR, Schäfer A, Won J, Brown AJ, Montgomery SA, Hogg A, Babusis D, Clarke MO, Spahn JE. Comparative therapeutic efficacy of remdesivir and combination lopinavir, ritonavir, and interferon beta against MERS-CoV. Nature Communications. 2020 Jan 10;11(1):1-4.

11. Centers for Disease Control and Prevention. Infection Control in Healthcare Facilities. Available from: https://www.cdc.gov/sars/guidance/i-infection/healthcare.html

Kanker & Stroke

APA ITU KANKER?

Istilah “kanker” mengacu pada sekelompok penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan sel yang tidak normal. Tidak seperti sel normal, sel kanker membelah dan tumbuh tak terkendali, dan sel berlebih ini membentuk massa jaringan yang disebut tumor.

Tumor ini bisa bersifat non-kanker (jinak), yang jarang mengancam jiwa, atau berbahaya (ganas). Tumor ganas dapat membuat Anda sangat sakit karena mereka menghancurkan jaringan normal lainnya pada tubuh Anda. Namun, tidak semua jenis kanker membentuk tumor. Sebagai contoh, tumor jarang terjadi pada Leukemia, yang merupakan kanker darah atau sumsum tulang.

PENGOBATAN & REHABILITASI

Diagnosis dan pengobatan kanker sering melibatkan tim perawatan kanker yang terdiri dari profesional kesehatan, seperti dokter, perawat, dan pekerja sosial. Tim perawatan ini akan berkumpul untuk memastikan bahwa orang yang Anda cintai menerima perawatan terbaik. Tim perawatan akan merekomendasikan opsi perawatan yang cocok untuk orang yang Anda cintai, karena ini bervariasi dari orang ke orang. Beberapa perawatan umum meliputi: pembedahan, kemoterapi dan terapi radiasi.

Kanker dan perawatannya dapat menyebabkan orang yang Anda cintai mengalami beberapa efek samping fisik dan emosional, seperti kelelahan, kelemahan otot, dan ingatan yang buruk. Anda dapat membantu orang yang Anda cintai untuk mengelola gejala dan efek samping dari perawatan. Rehabilitasi profesional dapat membantu orang yang Anda cintai pulih dan kembali ke masyarakat. Anda juga dapat mendukung perjalanan pemulihan orang yang Anda cintai dengan memberi mereka dorongan untuk masalah yang mungkin mereka hadapi ketika menyesuaikan diri dengan “normal baru” mereka.

STROKE

Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu, yang menyebabkan kerusakan otak. Otak kita ditenagai oleh darah yang membawa oksigen dan nutrisi, yang dibutuhkannya untuk menjaga fungsi tubuh kita sehari-hari. Ketika suplai darah ini terputus, sel-sel otak mati dan otak yang terpengaruh tidak dapat mengontrol fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Karena bagian otak yang berbeda mengontrol fungsi yang berbeda, efek stroke dapat sangat bervariasi tergantung pada lokasi obstruksi di dalam otak dan jumlah jaringan otak yang terpengaruh.

SIAPKAN DIRI UNTUK RUMAH

Efek umum stroke adalah kecacatan fisik yang mungkin bertahan bahkan setelah orang yang Anda cintai tinggal di rumah sakit. Cara terbaik untuk mengatasi tantangan ini adalah untuk memastikan bahwa segala sesuatunya diatur di rumah, sehingga lebih mudah untuk membantu orang yang Anda cintai kembali ke kehidupannya sehari-hari.

  • Pertimbangan penting adalah modifikasi lingkungan rumah Anda, yang dapat membantu orang yang Anda cintai melakukan kegiatan sehari-hari dengan upaya yang lebih sedikit dan kemandirian yang lebih besar.
  • Independensi fungsional orang yang Anda cintai dapat terkena dampak setelah stroke. Untuk memastikan bahwa orang yang Anda cintai dapat terus memaksimalkan tingkat kemandiriannya dalam kegiatan sehari-hari, ia mungkin memerlukan alat bantu untuk membantunya bergerak.

REHABILITASI

Rehabilitasi stroke bermanfaat bagi sebagian besar pasien stroke, dan memainkan peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan orang yang Anda cintai untuk melakukan tugas sehari-hari mereka, dan juga dalam mengurangi komplikasi di masa depan. Bicaralah dengan ahli fisioterapi Anda untuk memahami lebih lanjut tentang potensi rehabilitasi dan pilihan untuk orang yang Anda cintai.

PEDULI DIRI SENDIRI

Ada juga kelompok pendukung yang dapat Anda hadiri sendiri atau bersama orang yang Anda cintai jika Anda merasa perlu berbicara dengan pengasuh lain yang merawat pasien stroke juga. Kelompok pendukung memberi Anda kesempatan untuk berbagi pengalaman pribadi, perasaan, dan kiat tentang cara merawat orang yang Anda cintai. Yang paling penting, itu membawa Anda bersama dengan orang-orang yang sedang mengalami atau telah melalui pengalaman serupa, sehingga Anda tidak harus berjalan melalui perjalanan ini sendirian.

Penanggulangan Serangan Jantung

Ada empat pertolongan pertama ketika serangan jantung terjadi

  1. Duduk bersandar senyaman yang kamu rasakan. Hindari posisi berbaring, karena kemungkinan besar posisi tersebut akan mengganggu jalannya pernapasanmu.
  2. Sebisa mungkin tidak minum air terlalu banyak. Di beberapa kasus, minum air malah akan membuat pengidap serangan jantung semakin sesak.
  3. Jika serangan datang ketika kamu menyetir sendiri, berhenti sejenak untuk menenangkan pikiran. Kemudian, tarik napas yang dalam. Tujuan menarik napas merupakan salah satu cara menangani serangan jantung ini yang bertujuan untuk memasukkan oksigen ke dalam paru-paru.
  4. Segera hubungi ambulans di nomor 118 atau 119 untuk mendapat pertolongan medis lebih lanjut.

Serangan jantung sangat erat kaitannya dengan nyawa seseorang. Pada dasarnya, serangan jantung juga bisa disembuhkan, baik dengan jalur medis maupun cara yang sederhana seperti memperbaiki gaya hidup.

Berikut ini cara-cara yang bisa kamu tempuh secara medis:

1.  Angioplasti Koroner

Kateter atau pipa kecil dengan balon pada ujungnya dimasukkan ke dalam pembuluh darah besar di pangkal paha atau lengan. Balon akan diarahkan ke bagian pembuluh yang menyempit di jantung. Setelah berada di pembuluh itu, balon dikembungkan untuk membuka pembuluh darah dan juga menghancurkan plak.

2. Operasi Bypass

Operasi ini dilakukan ketika terjadi banyak penyumbatan di pembuluh koroner. Aliran darah ke jantung akan dibuatkan jalur baru.

Operasi bypass melibatkan pengambilan pembuluh darah dari bagian lain tubuh, biasanya diambil dari dada atau kaki, untuk digunakan sebagai cabang baru.

3.  Transplantasi Jantung

Ini adalah prosedur penggantian jantung dari donor yang sudah meninggal untuk penerima dengan gagal jantung. Penerima donor pastinya sudah mendapat persetujuan dari keluarga mendiang untuk mendapatkan organnya.

Selain penanganan medis, perubahan gaya hidup sejatinya bisa dilakoni sebagai upaya untuk menyembuhkan serangan jantung. Ini termasuk meninggalkan kebiasaan merokok, hindari makanan berlemak, dan rutin berolahraga. Dengan demikian, kondisi jantung pun dapat berangsur normal.

Kemudian mengelola stress juga bisa menjadi salah satu upaya mengatasi serangan jantung. Berdasarkan data kesehatan yang dipublikasikan oleh Heart.org, stres bisa menjadi pemicu utama munculnya serangan jantung.

Penjelasannya adalah tekanan psikis dapat memengaruhi fisik terutama pembuluh darah dan sirkulasi oksigen ke otak. Mengelola stres, memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan, dalam arti kamu sangat disarankan untuk menambah asupan gizi yang baik untuk jantung, ini termasuk oatmeal.

Serat yang tinggi dalam oatmel mampu mengurangi bahaya hipertensi pastinya baik untuk jantung. Untuk itu, paling sedikit konsumsilah enam porsi oatmeal tiap minggu. Sebuah penelitian pun telah membuktikan bahwa dengan mengonsumsi satu mangkok oatmeal setiap hari, seorang pengidap serangan jantung akan lebih cepat pulih.

Pencegahan Penyakit Jantung Koroner

Hampir semua kasus penyakit jantung berawal dari minimnya kesadaran dan pengetahuan akan gaya hidup sehat penderita. Oleh karena itu, penting melakukan gaya hidup sehat sebagai berikut:

  • Tidak merokok dan minum minuman keras/beralkohol
  • Jalani pola makan sehat dengan konsumsi buah-buahan serta sayuran, dan kurangi makanan berlemak
  • Mengontrol kadar gula dan tekanan darah dalam batas normal
  • Olahraga teratur

Bantuan Hidup Dasar adalah usaha yang pertama kali dilakukan untuk mempertahankan kondisi jiwa seseorang pada saat mengalami kegawatdaruratan atau mengancam nyawa.

Tujuan pelatihan BHD adalah…

  1. Mencegah berhentinya sistem pernafasan atau sistem peredaran darah
  2. Memberikan bantuan external terhadap sistem pernafasan atau sistem peredaran darah melalui Resusitasi jantung Paru (RJP)
  3. Menyelamatkan nyawa korban
  4. Mencegah kecacatan

Hight Burden Disease

Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir menghadapi masalah triple burden diseases. Hal ini disebabkan oleh adanya penyakit menular yang masih menjadi masalah ditandai dengan masih sering terjadinya kejadian luar biasa.

Beberapa penyakit menular tertentu, munculnya kembali beberapa penyakit menular lama (reemerging diseases) seperti Tuberculosis, Malaria dan Leptospirosis, serta munculnya penyakit-penyakit menular baru (new-emerging diseases) seperti Avian Influenza, Flu Babi, Zika Virus. Di sisi lain, penyakit tidak menular menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Analisis Beban Penyakit (Burden of Disease) Menuju Cakupan Semesta (Universal Health Care)

Pada tahun 2019, Indonesia menerapkan Universal Health Coverage (UHC) secara menyeluruh melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.  Prinsip dasar dari UHC adalah semua orang dan komunitas dapat memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan mulai dari promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, sampai platiatif dengan mutu yang terjamin. Burden of Disease dalah usaha sistematik dan ilmiah untuk mengukur besarnya perbandingan health loss dari semua macam penyakit besar untuk masyarakat semua umur, jenis kelamin, dan kondisi geografis dari waktu ke waktu. Analisis GBD dapat digunakan untuk mengurangi Disability-Adjusted Life Year (DALY), yaitu angka kematian yang disebabkan karena disabilitas, kematian premature, penyakit yang melumpuhkan, dan road injury.

Banyak negara yang telah menggunakan pendekatan ini untuk merumuskan kebijakan, strategi, dan sistem kesehatan untuk mewujudkan UHC. Dalam kasus di Indonesia, analisis DALY menunjukkan bahwa penyebab kematian tertinggi dari tahun 2005 hingga 2016 adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit jantung koroner, dan diabetes mellitus. Penyakit-penyakit ini tidak menular, sehingga Kemenkes mulai fokus pada penyakit semacam ini dan menyesuaikan kebijakannya. Seminar ini sekali lagi menunjukkan pentingnya menggunakan data ilmiah untuk merumuskan kebijakan publik, khususnya yang menyangkut kesehatan.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas, Subandi Sardjoko mengatakan telah terjadi pergeseran beban penyakit dari penyakit menular (PM) ke penyakit tidak menular (PTM), yang disebabkan oleh transisi demografi dan epidemiologi yang terjadi di Indonesia.

Ia merujuk data yang dikeluarkan oleh Balitbangkes Kementerian Kesehatan, pada 1990 PTM mencapai 39,81 persen, pada 2007 naik menjadi 59,24 persen, dan pada 2017 naik kembali menjadi 69,91 persen. “PTM meningkat signifikan dan menjadi faktor penyebab utama kematian di Indonesia,” ujarnya dalam acara Peluncuran dan Diseminasi Kajian Sektor Kesehatan dan Analisis Beban Penyakit Tingkat Provinsi di Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2019).

Hal tersebut, menurutnya, berpotensi naik kembali seiring dengan penduduk Indonesia yang akan memasuki awal penuaan. Yang mana juga disebabkan oleh pola hidup penduduk yang belum sehat, seperti diet tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, dan merokok. Hal tersebut pula menjadi beban ganda bagi Indonesia, manakala penyakit menular seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria belum sepenuhnya teratasi dengan optimal. “Indonesia juga mengalami beban ganda gizi, di mana kekurangan gizi dan obesitas meningkat,” ujarnya. Sebab itu, ke depannya, pada RPJMN 2020-2024 terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah. Antara lain (1) upaya kesehatan yang menekankan pada upaya promotif dan preventif; (2) pentingnya kerja sama multi sektor terhadap pengendalian konsumsi rokok, penciptaan lingkungan sehat, dll; (3) peningkatan peran swasta dalam mempercepat pembangunan infrastruktur dan pelayanan kesehatan di berbagai wilayah; (4) peningkatan peran masyarakat; (5) penguatan kapasitas daerah dalam mengelola pembangunan kesehatan di wilayah; (6) penguatan regulasi; (7) penguatan sistem informasi untuk mendukung percepatan pembangunan kesehatan.