Caregiver

Apa itu Caregiver?

Secara garis besar, caregiver atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai ‘pengasuh’ adalah seorang individu yang merawat dan mendukung individu lain yang memiliki keterbatasan dalam kehidupannya secara umum. Individu disini dapat merujuk pada lansia, orang dengan disabilitas, orang dengan penyakit kronis (penyakit jangka waktu panjang) yang memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas dengan baik. Dukungan yang diberikan caregiver pun beragam, dapat berupa dukungan emosional, dukungan finansial, memberikan perawatan, dan dalam bentuk lain. [1]

Caregiver mempunyai tugas salah satunya sebagai emotional support, di antaranya merawat pasien (memandikan, memakaikan baju, menyiapkan makan, mempersiapkan obat), mengatur keuangan, membuat keputusan tentang perawatan dan berkomunikasi dengan pelayanan kesehatan formal (Kung, 2003: 3) [2]

Tips Kesehatan Mental untuk Caregiver saat situasi COVID-19

  1. Cari informasi dari sumber tepercaya
    Ada banyak informasi yang dibagikan. Jika menonton, membaca atau mendengarkan berita menyebabkan kecemasan dan kesusahan, kurangi eksposur dan cari informasi terbaru dari sumber terpercaya sekali atau dua kali sehari. [3]
  2. Persiapkan rencana darurat Anda
    Persiapkan rencana darurat Anda jika Anda menginginkan karantina diri sendiri. Memiliki sebuah rencana dapat membantu menghilangkan beberapa stres. Perluas lingkaran dukungan Anda dan tanyakan anggota keluarga atau teman Anda jika mereka bisa membantu bila diperlukan. Dokumentasikan jenis perawatan yang Anda berikan yaitu obat, makan, dll sehingga seseorang dapat dengan mudah merujuk dan menyediakan perawatan yang dibutuhkan. Simpan daftar semua dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya di satu tempat. Memastikan catatan medis, riwayat perjalanan perawatan kesehatan atau dokumentasi lainnya mudah diakses anggota lingkaran perawatan atau keluarga Anda tahu dimana menemukannya. [3]
  3. Temukan peluang untuk berbagi cerita positif dan kebaikan bagi orang disekitar Anda
    Jika Anda memberikan perawatan kepada seseorang dengan tantangan kesehatan fisik dan atau mental, bagikan kisah positif dari orang yang telah pulih dari COVID-19 atau dikelola dengan baik selama periode pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Mengakui jasa penyedia layanan kesehatan dan berterima kasih atas dukungan dan komitmen mereka pada saat yang sulit ini. Pesan ini diharapkan bisa bermakna bagi mereka yang bekerja di garis depan untuk menjaga kita semua tetap aman.  [3]
  4. Jaga rutinitas rutin sebanyak mungkin
    Sebisa mungkin, tetap rutin atau rutin membantu membuat yang baru di lingkungan baru, termasuk olahraga teratur, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kontak virtual dengan keluarga, teman dan anggota komunitas. Kembangkan strategi untuk menyesuaikan rutinitas Anda selama periode jarak sosial atau isolasi diri. Ada banyak sumber daya yang tersedia online untuk berbelanja, komunikasi, olahraga, dll untuk membantu beradaptasi dengan rutinitas Anda. Tetap memberi kabar dengan orang yang Anda sayangi, bahkan jika Anda tidak bisa mengunjungi secara langsung. [3]
  5. Tetap terhubung dan pertahankan jejaring sosial
    Gunakan teknologi untuk membantu Anda tetap terhubung misalkan email, media sosial, konferensi video (Facetime, skype, dll.) dan telepon. Jika kamu sedang merawat seseorang dalam jangka panjang atau fasilitas kesehatan lain, periksa untuk melihat apa teknologi yang mereka miliki. Dengan perubahan untuk pedoman kunjungan, banyak rumah menambahkan cara tambahan untuk penghuni dan keluarga terhubung. Jika Anda memiliki ide kreatif, beri tahu kami dan berbagi dengan fasilitas lokal Anda. [3]
  6. Hadiri kebutuhan dan perasaan Anda sendiri
    Terlibat dalam kegiatan sehat yang Anda nikmati dan santai. Berolahraga secara teratur, tidur yang teratur dan makan makanan yang sehat dan bergizi. Jika Anda atau seseorang yang Anda sayangi membutuhkan kesehatan mental dukungan, hubungi penyedia layanan kesehatan setempat Anda. [3]

Tantangan yang mungkin terjadi saat menyampaikan informasi terkait COVID-19 kepada lansia: [4]

  1. Karena COVID-19 tergolong masih baru dan masih sedikit penelitian yang mengetahui tentang penyakit ini secara mendalam, banyak sekali berita yang tidak jelas kebenaran dan sumbernya. Maka dari itu, sebelum menyampaikan informasi ke lansia, kita perlu memastikan sumber informasi yang dapat dipercaya. Cek kembali informasi yang kita dapatkan dengan sumber yang terpercaya dan pilah kembali mana berita yang bermanfaat dan terpercaya untuk disampaikan kepada lansia.
  2. Sebagian lansia mungkin menolak mengikuti saran pencegahan seperti physical distancing. Mereka telah hidup lebih lama dan telah banyak melewati banyak kejadian sulit sepanjang hidupnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi lansia untuk sulit menerima informasi baru atau menganggap enteng wabah ini. Sebagian mungkin merasa sudah tua sehingga tidak masalah bila terkena dan meninggal, sebagian lainnya mungkin merasa masih sehat dan tidak akan terkena. Jelaskan bahwa Anda sekeluarga menyayanginya dan tidak ingin beliau terinfeksi, sampaikan pula fakta bahwa wabah COVID-19 ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi selama seabad terakhir, oleh karenanya lebih baik berjaga-jaga untuk mencegahnya.
  3. Dinamika dalam keluarga. Terkadang, dinamika hubungan orangtua dengan anak dapat menghalangi seorang lansia menerima informasi. Peran sebagai orangtua ketika anak-anaknya masih kecil menempatkan seseorang dalam posisi yang lebih mengetahui informasi dan bertanggungjawab terhadap anak-anaknya. Terkadang, ketika anak telah dewasa dan orangtua menjadi lansia pun, sulit bagi orangtua untuk menerima bahwa kini mereka bertukar peran; anak-anaknya yang menjaga dirinya. Bila Anda merasa hal ini yang menyulitkan orangtua Anda menerima informasi atau nasihat, coba sampaikan permintaan untuk mereka mengikuti saran pencegahan COVID-19 sebagai kebutuhan Anda, bukan mereka. Misalnya: “Saya khawatir dengan wabah ini dan ingin Mama/Papa sehat selalu, supaya terus bisa bermain dengan cucu-cucu” Bila dinamika keluarga masih menghalangi Anda menyampaikan informasi, Anda juga dapat mempertimbangkan untuk menyampaikan informasi melalui orang lain yang mungkin lebih didengarkan oleh mereka. Jika ada Caregiver maka bisa membantu untuk menyampaikan informasi atau alternative lainnya, berikan tontonan yang menarik tentang COVID-19 ini.
  4. Adanya gangguan kognitif atau fungsi pikir seperti demensia, yang sering terjadi pada lansia. Hal ini tentunya mempengaruhi kemampuan seorang lansia menerima dan mengingat informasi. Akibatnya, lansia mungkin lupa melakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan. Demensia juga dapat mengganggu proses komunikasi serta menyebabkan seseorang sulit memahami hubungan sebab-akibat, sehingga sulit memahami alasan mengapa harus meminimalisir bepergian selama wabah ini. Maka dari itu, Caregiver harus terus mengingatkan atau memantau aktivitas lansia.

Ref.

[1] https://pijarpsikologi.org/family-caregiver-sang-pengasuh-pun-butuh-diperhatikan/

[2] https://www.kanopiinsansejahtera.co.id/care-giver-dan-home-care-ciptakan-kemandirian-lansia/

[3] https://ontariocaregiver.ca/covid-19/

[4] https://alzi.or.id/tantangan-yang-mungkin-terjadi-saat-menyampaikan-informasi-terkait-covid-19-kepada-lansia/