Pedoman Praktis Skrining dan Penanganan Awal Infeksi Virus Corona

Munculnya infeksi virus Corona, atau yang disebut juga dengan COVID-19, yang telah mewabah di Cina dan negara lainnya, mengharuskan dokter di Indonesia memahami skrining dan penanganan awal penyakit yang mempunyai gejala menyerupai influenza ini.

Akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan adanya kasus sindrom respirasi akut yang bersumber dari Wuhan, Cina, dengan penyebab utamanya adalah virus Corona (SARS-CoV-2). Infeksi virus Corona, atau yang disebut juga dengan COVID-19, sangat cepat menyebar melalui droplets yang ditularkan antar manusia. Sampai saat ini, COVID-19 sudah terdeteksi di beberapa negara termasuk Indonesia. Beberapa negara seperti Cina, Korea Selatan, Jepang, Italia, dan Iran merupakan negara dengan risiko tinggi penularan virus corona.

Berdasarkan laporan terakhir dari European Centre for Disease Prevention and Control pada awal Maret 2020, terdapat 114.243 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi positif dan ada sebanyak 4.023 kematian yang diakibatkan oleh virus ini.

Sekilas tentang Virus Corona

Virus Corona merupakan virus RNA yang berasal dari famili Coronaviridae. Patofisiologi virus ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi sel epitel saluran pernapasan dan pencernaan merupakan target utama virus ini. Rute transmisi virus Corona adalah melalui droplet. Transmisi melalui kontak langsung, airbornefecal-oral, dan fomite yang terkontaminasi belum dapat dipastikan tetapi patut diwaspadai juga. Masa inkubasi virus Corona sekitar 5 hari (2-14 hari).

Virus Corona spesies lain sebelumnya juga pernah mewabah dalam beberapa tahun terakhir dan menyebabkan infeksi respiratori pada manusia, yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada tahun 2012. Virus Corona yang menyebabkan wabah kali ini adalah SARS-CoV-2. Sampai saat ini, diduga hewan, terutama kelelawar, merupakan perantara penularan virus Corona.

Presentasi Klinis Pasien Terinfeksi Virus Corona

Sama seperti infeksi virus lainnya, infeksi ini dapat bersifat asimptomatik dan dapat juga menimbulkan gejala yang ringan, seperti pada infeksi saluran napas atas (ISPA); gejala yang berat, seperti pneumonia; bahkan sampai menimbulkan kematian. Terdapat sekitar 17-29% pasien mengalami sindrom distress pernapasan akut dan 10% mengalami infeksi sekunder.

Tanda dan gejala yang terjadi adalah demam, batuk, nyeri tenggorokan, dan dispnea. Beberapa gejala lain yang dapat terjadi adalah mialgia/fatigue, nyeri kepala, dan diare.

Faktor risiko yang dapat memperberat penyakit infeksi virus Corona adalah kelompok usia tertentu seperti usia lanjut, bayi, anak, serta adanya penyakit kronis seperti diabeteshipertensi, gangguan kardiovaskular, dan kanker.

Skrining Infeksi Virus Corona

Pada pasien yang asimptomatik dengan riwayat kontak dengan pasien virus Corona harus dilakukan pemeriksaan awal/skrining. Individu terbagi menjadi dua tipe pajanan, pajanan risiko rendah dan pajanan risiko tinggi. Disebut pajanan risiko tinggi apabila seseorang berada kira-kira 2 meter dari kasus virus Corona dalam periode waktu yang cukup lama tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti gaunsarung tangan, masker N95, dan proteksi mata; atau seseorang yang kontak langsung dengan sekret infeksius dari kasus virus Corona seperti terkena batuk atau bersin dari pasien saat tidak menggunakan alat pelindung diri.

Apabila individu memiliki pajanan risiko rendah, lakukan pemantauan pribadi selama 14 hari terhadap tanda dan gejala infeksi virus Corona. Apabila dalam waktu 14 hari tidak ada demam atau gejala pernapasan, individu tersebut dapat dinyatakan tidak terdapat risiko infeksi virus Corona.

Pada individu yang mengalami pajanan risiko tinggi, petugas kesehatan harus menghubungi Dinas Kesehatan setempat agar dapat dilakukan pemantauan ketat selama 14 hari. Pemantauan ketat meliputi evaluasi tanda dan gejala klinis setiap hari, melakukan karantina (dipisahkan dari kontak sosial), tidak boleh bepergian, dan harus selalu dapat dihubungi untuk pemantauan aktif. Apabila dalam waktu 14 hari tidak ada demam atau keluhan lainnya, individu dapat dinyatakan tidak memiliki risiko infeksi virus Corona.

Pada individu yang dalam waktu pemantauan mengalami demam atau keluhan respirasi, isolasi harus dilakukan dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk oleh Kemenkes, seperti rumah sakit penyakit infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dan rumah sakit umum pusat (RSUP) Persahabatan, untuk dilakukan penegakan diagnosis dan perawatan. Apabila tidak terkonfirmasi, dilakukan pemantauan lanjutan sampai 14 hari apakah gejala membaik atau tidak. Apabila infeksi virus Corona telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, lakukan penatalaksanaan segera pada pasien.

Penatalaksanaan Awal Pasien Terinfeksi Virus Corona

Belum ada penatalaksaan yang spesifik untuk penyakit ini. Penatalaksanaan dengan antivirus juga belum terbukti efektif menyembuhkan infeksi virus Corona, sehingga fokus penatalaksanaannya adalah dengan mengobati gejala klinis dan terapi suportif seperti suplementasi oksigen, manajemen cairan, dan antibiotik jika diperlukan.

Saat ini, dua jenis obat, yaitu klorokuin fosfat dan remdesivir, sedang diteliti untuk pengobatan COVID-19. Klorokuin fosfat, yang biasa digunakan untuk mengobati malaria, telah ditemukan dapat menghambat replikasi dari SARS-CoV pada kultur sel. Studi lain juga menyatakan bahwa klorokuin mungkin memiliki efek profilaktik maupun terapeutik terhadap COVID-19. Redemsivir, yang merupakan antivirus spektrum luas, ditemukan dapat mengintervensi rantai RNA dari virus Corona. Namun, kedua obat ini masih dalam tahap uji klinis untuk menilai efektivitasnya terhadap penyakit COVID-19.

Penatalaksanaan awal infeksi virus Corona adalah dengan suplementasi oksigen, manajemen cairan, antibiotik jika diperlukan, dan kontrol infeksi agar infeksi tidak semakin menyebar. Rajin mencuci tangan dan memakai alat pelindung diri yang memadai sangat penting untuk mencegah penularan infeksi virus Corona pada tenaga kesehatan.

Referensi

1. European Centre for Disease Prevention and Control. Novel Coronavirus. Available from: https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus-china

2. European Centre for Disease Prevention and Control. Facts About Novel Coronavirus. Available from https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus/facts

3. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Care 2019 Novel Coronavirus. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-guidance-management-patients.html

4. Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia. Manajemen Spesimen dan Diagnosis Laboratorium Kasus Suspek 2019-nCoV. Available from: https://www.pdspatklin.or.id/assets/files/pdspatklin_2020_01_26_16_58_51.pdf

5. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet. 2020. Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/fulltext

6. WHO. Clinical management of severe acute respiratory infection wen novel coronavirus (nCov) infection is suspected. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/clinical-management-of-novel-cov.pdf?sfvrsn=bc7da517_2&download=true

7. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M, Shi Z, Hu Z, Zhong W, Xiao G. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020 Feb 4:1-3.

8. Vincent MJ, Bergeron E, Benjannet S, Erickson BR, Rollin PE, Ksiazek TG, Seidah NG, Nichol ST. Chloroquine is a potent inhibitor of SARS coronavirus infection and spread. Virology journal. 2005 Dec 1;2(1):69.

9. Gao J, Tian Z, Yang X. Breakthrough: Chloroquine phosphate has shown apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies. BioScience Trends. 2020.

10. Sheahan TP, Sims AC, Leist SR, Schäfer A, Won J, Brown AJ, Montgomery SA, Hogg A, Babusis D, Clarke MO, Spahn JE. Comparative therapeutic efficacy of remdesivir and combination lopinavir, ritonavir, and interferon beta against MERS-CoV. Nature Communications. 2020 Jan 10;11(1):1-4.

11. Centers for Disease Control and Prevention. Infection Control in Healthcare Facilities. Available from: https://www.cdc.gov/sars/guidance/i-infection/healthcare.html