Hight Burden Disease

Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir menghadapi masalah triple burden diseases. Hal ini disebabkan oleh adanya penyakit menular yang masih menjadi masalah ditandai dengan masih sering terjadinya kejadian luar biasa.

Beberapa penyakit menular tertentu, munculnya kembali beberapa penyakit menular lama (reemerging diseases) seperti Tuberculosis, Malaria dan Leptospirosis, serta munculnya penyakit-penyakit menular baru (new-emerging diseases) seperti Avian Influenza, Flu Babi, Zika Virus. Di sisi lain, penyakit tidak menular menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Analisis Beban Penyakit (Burden of Disease) Menuju Cakupan Semesta (Universal Health Care)

Pada tahun 2019, Indonesia menerapkan Universal Health Coverage (UHC) secara menyeluruh melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.  Prinsip dasar dari UHC adalah semua orang dan komunitas dapat memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan mulai dari promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, sampai platiatif dengan mutu yang terjamin. Burden of Disease dalah usaha sistematik dan ilmiah untuk mengukur besarnya perbandingan health loss dari semua macam penyakit besar untuk masyarakat semua umur, jenis kelamin, dan kondisi geografis dari waktu ke waktu. Analisis GBD dapat digunakan untuk mengurangi Disability-Adjusted Life Year (DALY), yaitu angka kematian yang disebabkan karena disabilitas, kematian premature, penyakit yang melumpuhkan, dan road injury.

Banyak negara yang telah menggunakan pendekatan ini untuk merumuskan kebijakan, strategi, dan sistem kesehatan untuk mewujudkan UHC. Dalam kasus di Indonesia, analisis DALY menunjukkan bahwa penyebab kematian tertinggi dari tahun 2005 hingga 2016 adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit jantung koroner, dan diabetes mellitus. Penyakit-penyakit ini tidak menular, sehingga Kemenkes mulai fokus pada penyakit semacam ini dan menyesuaikan kebijakannya. Seminar ini sekali lagi menunjukkan pentingnya menggunakan data ilmiah untuk merumuskan kebijakan publik, khususnya yang menyangkut kesehatan.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas, Subandi Sardjoko mengatakan telah terjadi pergeseran beban penyakit dari penyakit menular (PM) ke penyakit tidak menular (PTM), yang disebabkan oleh transisi demografi dan epidemiologi yang terjadi di Indonesia.

Ia merujuk data yang dikeluarkan oleh Balitbangkes Kementerian Kesehatan, pada 1990 PTM mencapai 39,81 persen, pada 2007 naik menjadi 59,24 persen, dan pada 2017 naik kembali menjadi 69,91 persen. “PTM meningkat signifikan dan menjadi faktor penyebab utama kematian di Indonesia,” ujarnya dalam acara Peluncuran dan Diseminasi Kajian Sektor Kesehatan dan Analisis Beban Penyakit Tingkat Provinsi di Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2019).

Hal tersebut, menurutnya, berpotensi naik kembali seiring dengan penduduk Indonesia yang akan memasuki awal penuaan. Yang mana juga disebabkan oleh pola hidup penduduk yang belum sehat, seperti diet tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, dan merokok. Hal tersebut pula menjadi beban ganda bagi Indonesia, manakala penyakit menular seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria belum sepenuhnya teratasi dengan optimal. “Indonesia juga mengalami beban ganda gizi, di mana kekurangan gizi dan obesitas meningkat,” ujarnya. Sebab itu, ke depannya, pada RPJMN 2020-2024 terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah. Antara lain (1) upaya kesehatan yang menekankan pada upaya promotif dan preventif; (2) pentingnya kerja sama multi sektor terhadap pengendalian konsumsi rokok, penciptaan lingkungan sehat, dll; (3) peningkatan peran swasta dalam mempercepat pembangunan infrastruktur dan pelayanan kesehatan di berbagai wilayah; (4) peningkatan peran masyarakat; (5) penguatan kapasitas daerah dalam mengelola pembangunan kesehatan di wilayah; (6) penguatan regulasi; (7) penguatan sistem informasi untuk mendukung percepatan pembangunan kesehatan.